Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Friday, January 31, 2014

, , , ,

Masjid Multifungsi

Masih bercerita tentang perjalanan Junaedi, melanjutkan dua tulisan sebelumnya yang berjudul Semarakkan Masjid Pancarkan Syiarnya dan Pancaran Syiar Masjid, kami melanjutkannya kini dengan edisi Masjid Multifungsi.


Sebagian masjid malah menjadi tempat mangkal puluhan pengemis. Masjid lantas menjadi ikon ketimpangan: bangunan mewah yang berdampingan dengan permukiman miskin. Ada pula masjid yang lebih sibuk berdandan, tapi abai pada lingkungan. Programnya renovasi interior, perbaikan menara, menambah lantai atas, atau sekadar modifikasi pagar.

Sebagai pendukung, kotak amal terus-menerus digelar di jalanan. Kadang mengganggu kenyamanan. Keberadaan wakaf masjid, dalam hal ini, kerap malah menjadi beban pengurus dan masyarakat sekitar. Padahal, masjid bisa dikelola agar produktif dan memberi nilai tambah. Tidak hanya menjadi pengumpul sedekah.

Payung hukum yang bisa dipakai adalah ketentuan wakaf. Sebagian besar tanah masjid adalah wakaf. Yakni properti pribadi yang diserahkan menjadi milik Allah agar dimanfaatkan bagi kepentingan ibadah dan kemaslahatan umat. Dengan logika wakaf, tanah masjid bisa digunakan untuk berbagai usaha produktif, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Masjid Nabawi pada masa Nabi pun sudah memberikan teladan bahwa fungsinya tidak sekadar ibadah. Usaha produktif juga mewarnai pola pengelolaan Masjid Nabawi masa kini. Sebagian lahan wakafnya disewakan untuk hotel berbintang. Keuntungannya diputar untuk operasional rutin masjid dan kegiatan sosial.

Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir, dengan sejumlah tanah wakafnya, juga dikembangkan dengan orientasi profit. Antara lain disewakan untuk kantorkantor pemerintahan. Al-Azhar sudah lama menjadi ikon “gudang uang” pendidikan karena mampu memberikan beasiswa kepada seluruh mahasiswanya.

Dari titik inilah, maka pengelolaan masjid harus benar-benar diperhatikan. Masjid harus dikelola dengan manajemen yang rapi dan baik, sehingga masjid yang multifungsi itu dapat benar-benar terwujud. Jangan sampai apa yang disinyalir oleh Rasulullah SAW terjadi pada masjid-masjid di Tanah Air, sebagaimana termaktub dalam hadis berikut ini.
“Dari Ali bin Ali Thalib RA, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hanya tulisannya.

Masjid-masjid mereka indah, tapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.” (H.R. Al-Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib RA).
Karena itulah, setiap muslim harus berupaya semaksimal mungkin agar masjid-masjid yang telah didirikan dapat benar-benar difungsikan untuk kepentingan umat. Untuk itu, diperlukan pengelolaan masjid yang profesional. Dalam pandangan Aa Gym, pengelolaan masjid itu harus diserahkan kepada ahlinya. “Seharusnya bukan dengan sisa waktu, sisa tenaga, tetapi memang dikelola oleh para ahli manajemen masjid yang memiliki keilmuan agama yang baik, kebeningan hati, dan profesional,” ujar Aa Gym.

Bersambung
Publisher: masjid kita - 1:29:00 AM

Thursday, January 23, 2014

, , , ,

SMU Muhammadiyah 4





Bangunan Sekolah Berbalut Masjid


Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia memiliki andil cukup besar terhadap pendidikan anak bangsa. Ribuan sekolah yang dirilis Muhammadiyah sudah berada di seluruh pelosok negeri ini, salah satunya adalah Sekolah Muhammadiyah 04 di Kramatjati.

Menurut Ketua Majelis Dikdasmen PCM Kramatjati Noor Fajar SH.MH keberadaan sekolah Muhammadiyah banyak melahirkan generasi penerus berkualitas. Semua itu merupakan upaya keras Muhammadiyah untuk melahirkan generasi unggulan.

Menurut Noor, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kramatjati termasuk salah satu Cabang Muhammadiyah paling tua di wilayah Jakarta. PCM Kramatjati berdiri tahun 1960-an, sebelumnya sebagai Ranting Muhammadiyah. Dalam penjelasannya lebih lanjut Noor mengungkapkan PCM saat ini mempunyai amal usaha sebagai penopang kegiatan organisasai tiga unit sekolah, yaitu SD Muhammadiyah 04 Cililitan, SMP Muhammadiyah 04 dan SMA Muhammadiyah 04 keduanya berlokasi di PCM Kramatjati.

Tak hanya sekolah, PCM Kramatjati ini juga memiliki Masjid Baiturrahmah yang cukup besar, megah dan representatif. Bahkan sekarang sedang dikembangkan Klinik Kesehatan dan Kantor Pembantu Bank Muamalat. Baik klinik maupun kantor bank untuk membantu para siswa dan masyarakat sekitar PCM berinteraksi untuk berobat dan kepereluan perbankan.

Noor mengisahkan, saat SD Muhammadiyah 04 didirikan, kondisinya sangat sederhana. Namun pada saat pembukaan, jumlah murid yang mendaftar cukup banyak. Akhirnya pada tahun 1973 didirikan SMA Muhammadiyah 04 pada lokasi yang sama, sehingga pada saat itu SD Muhammadiyah 04 dipindahkan ke Ranting Muhammadiyah Cililitan yang berlokasi di perkampungan penduduk. Kemudian pada tahun 1980-an didirikan SMP Muhammadiyah 04 di lokasi yang sama.

Lihat postingan mengenai Masjid Baiturrahman yang diceritakan di atas di postingan ini.
Saat ini, tambah Noor, jumlah murid SD Muhammadiyah 04 mengalami penurunan dari semula lebih dari 100 orang siswa, saat ini hanya 80 anak. Sebagian besar mereka dari keluarga tidak mampu atau dhuafa, ”Ini merupakan misi persyarikatan membantu mereka yang kurang mampu, sehingga dalam kegiatan sehari-hari dilakukan subsidi silang,” katanya.

Sedangkan unuk siswa SMP Muhammadiyah 04 sebelum PCM direnovasi tahun 1998 yang saat itu masih belum ada pesaing seperti SMP Negeri yang ada di sekitarnya, jumlah siswa cukup banyak mencapai 400 siswa, namun setelah berdiri SMP Negeri disekitar, jumlah siswa menurun tajam dan kini sekitar 250 siswa. Namun demikian, mereka masih tetap eksis dan berprestasi dalam berbagai kegiatan berhasil meraih juara dalam berbagai lomba, diwujudkan pada jumlah piala-piala yang terpampang di ruang kepala sekolah sebagai bukti keberhasilan mereka meraih prestasi di berbagai kejuaraan.

Selain kegiatan rutin, siswa juga mengikuti berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang diterapkan PP. Muhammadiyah seperti Pandu HW, dan Tapak Suci yang pernah meraih kejuaran tingkat nasional. Sementara itu, SMA Muhammadiyah 04 pernah mencapai puncak rekor tertinggi jumlah siswanya mencapai 600 siswa, saat ini jumlah siswanya menurun sekitar 400-an siswa. Namun mereka tetap eksis dalam dunia pendidikan untuk tetap memacu prestasi akademik, bahkan pihak Diknas menawarkan SMA Muhammadiyah 04 ikut dalam pogram Sistim Kredit Semester ( SKS ) bagi siswa-siwinya, namun pihaknya belum siap sehingga dilimpahkan ke SMA Muhammadiyah 03 Kebayoran Baru yang rupanya lebih siap.

Meskipun siswanya cenderung turun jumlah siswanya, namun alumni dari SMA Muhammadiyah 04 cukup menunjukkan eksistensinya. Misalnya saja, Abdurakhim pernah menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta, Kusnan pernah menjabat Walikota Jakarta Timur, dan sekarang menjadi Staf Ahli Mendagri, ”Masih banyak lagi alumnus-alumnus kita yang berhasil baik di pemerintahan maupun swasta/wiraswasta,” kata Noor.

Ke depan, Noor berharap PCM Kramatjati mampu membuka amal usaha baru untuk menopang aktivitas organisasi di samping sekolah, seperti Klinik Kesehatan yang diprioritaskan untuk membantu kesehatan siswa dan masyarakat umum, juga pelayanan perbankan kini sudah dibuka, ”Insya Allah akan dibuka Pelayanan Pemulasaraan Jenazah yang akan dilengkapi dengan Mobil Ambulan.

Publisher: masjid kita - 1:19:00 AM

Tuesday, January 21, 2014

, , , , , ,

Pancaran Syiar Masjid


Seperti yang pernah kami singgung pada postingan sebelumnya, sekali lagi kami akan mengupas mengenai pendapat Aa Gym yang sempat terputus.. Baca Semarakkan Masjid Pancarkan Syiarnya...

Selamat membaca.
Kini memang masjid berdiri di mana-mana. Dari yang kecil (mushala) hingga yang megah. Lalu soal shalat berjamaah itu? “Mungkin yang paling penting, yang sudah berjamaah benar-benar menjadi figur yang bisa membuat orang yang belum berjamaah jadi tertarik,” kata KH Abdullah Gymnastiar, pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung.

Menurut Aa Gym -- panggilan akrab KH Abdullah Gymnastiar -- pengelola masjid dan jamaah yang sudah istiqamah harus punya
kesadaran bahwa mereka berutang kepada Allah untuk menjadi jalan bagi yang lain bisa ikut ke masjid.

Upaya mengajak orang lain untuk berjamaah di masjid itu menjadi bagian dari kewajiban umat Islam untuk memakmurkan masjid, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Quran surah At-Taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orangorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Firman Allah dalam surat At-Taubah itu menunjukkan bahwa Allah telah mengarahkan untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, di masjid. Bahkan masjid bukan sekadar tempat sujud, sebagaimana makna harfiahnya. Ismail Raji Al-Faruqi, pakar kebudayaan Islam asal Palestina, mencatat bahwa sejak zaman Rasulullah SAW, masjid punya ragam fungsi.
Tidak hanya tempat ritual murni (ibadah mahdah), seperti shalat dan iktikaf. Kompleks masjid juga menjadi pusat pemerintahan, markas militer, sentra pendidikan, hingga ruang tawanan perang.
Di Masjid Nabawi -- masjid kedua yang didirikan Nabi di Madinah -- terdapat ruang bernama suffah yang dipakai untuk menampung program santunan fakir-miskin. Dalam perkembangan masa kini, muncul banyak persepsi yang justru mempersempit fungsi masjid. Bila sebidang tanah diwakafkan untuk masjid, maka yang terpikir, peruntukannya semata untuk ibadah murni.

Karena minimnya peran horizontal wakaf masjid, maka efek sosial-ekonominya pun kurang optimal. Ada masjid mentereng yang tak bisa berbuat banyak menyelesaikan kemiskinan jamaah di sekitarnya.
Sekali lagi.. Bagi yang ingin tahu apa kelanjutan kata-kata pimpinan Pesantren tersebut mengenai ini, silahkan dapatkan edisi Majalah Masjid Kita yang terbaru, atau silahkan berlangganan semua postingan blog ini melalui widget-widget yang sudah tersedia di blog ini sekarang juga.
Terimakasih.
Publisher: masjid kita - 1:27:00 AM
, , , ,

Muslim Ethiopia Bangun Masjid di Amerika


Tak diijinkan bangun masjid di tanah kelahiran sendiri, Muslim Ethiopia yang ada di Amerika Serikat berhasil membangun Masjid Hijrah Pertama (First Hijrah Mosque) dan pusat komunitas untuk memperingati imigrasi pertama Muslim Ethiopia dalam sejarah Islam.

Pembangunan Masjid First Hijrah ini juga sebagai simbol menentang praktek diskriminatif oleh pemerintah Ethiopia terhadap kaum Muslim.

Masjid Hijrah Pertama terletak di Washington, DC, hampir dua mil dari Gedung Putih. Nama masjid merujuk kepada imigrasi pada tahun 615 Masehi dari sebuah kelompok pengikut nabi, yang pertama masuk Islam, yang menuju ke kota utara Ethiopia Axum, mencari perlindungan atas penganiayaan dari suku Quraisy di Makkah.

Untuk memperingati imigrasi pertama dalam sejarah Islam, Muslim di kota Axum mencoba membangun masjid mereka sendiri, namun otoritas Ethiopia tidak memberikan izin. Hanya ketika orang-orang Kristen diperbolehkan untuk membangun sebuah gereja di Makkah baru umat Muslim di Ethiopia boleh membangun masjid, kata pernyataan pemerintah Ethiopia seperti dilaporkan.

Muslim Etiopia akhirnya mendapat kesempatan untuk mewujudkan impian mereka di Amerika Serikat di mana mereka membangun Masjid Hijrah Pertama (First Hijrah Mosque).

Masjid yang awalnya gedung dari hasil sewa ini, akhirnya mampu dibeli lalu digunakan untuk masjid. "Masjid ini mampu melayani 20.000 Muslim yang tinggal sekitar sini," kata Syaikh Mohamed Naguib, 57 tahun, pimpinan masyarakat muslim Ethiopia di Washington.

Naguib mengeluh karena adanya praktik diskriminasi terhadap umat Muslim di Ethiopia pada umumnya dan Axum pada khususnya. "Bukan hanya kami tidak diizinkan untuk membangun sebuah masjid di tanah pertama yang memperjuangkan kepentingan Islam, tapi kami juga tidak memiliki kuburan Muslim . Bahkan kami harus berjalan 15 kilometer di luar kota untuk menguburkan mereka umat Islam yang wafat."

Muadzin masjid, Moftah Saeid mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya sesama Muslim Ethiopia tidak merasa bebas melakukan ritual seperti di Axum. “Hal ini sangat ironis bahwa di Washington kami diberikan hak-hak, sementara hal ini tidak terjadi di tanah air kami sendiri," katanya kepada Al Arabiya.

Masjid First Hijrah terdiri dari dua lantai, yang pertama untuk pria dan yang kedua untuk perempuan. Selama bulan suci Ramadan, masjid ini mengadakan perjamuan sehingga anggota masyarakat dapat berbuka puasa bersama dan juga menyelenggarakan program yang mengajarkan al-Quran dan hukum-hukum Islam.

Masjid juga berkoordinasi dengan beberapa organisasi Islam seperti Badr Islamic Association dan memiliki jejaring sosial di situs Paltalk di mana di sana sering dilakukan dialog budaya dan agama.
Publisher: masjid kita - 1:16:00 AM

Friday, January 17, 2014

, , , , ,

Musabaqah antar Mushola


Ikatan Remaja Wates (Ikriwa) yang ada di bawah kelola Masjid Jami’ Taufiqillah menggelar musabaqah antar mushala untuk memeriahkan syiar Islam di bulan suci Ramadhan. Tepatnya tanggal 16-17 malam Ramadhan, para pengurus remas menggelar perlombaan antar mushola di wilayah Kedung Jaya Babelan, Bekasi. Kegiatan ini diikuti oleh 6 mushola yang ada di sekitar Wates.

Masjid yang berada di bawah Yayasan At-Taqwa ini memang cukup ramai oleh kegiatan-kegiatan Islam. Utamanya kegiatan yang dilakukan oleh para remaja masjidnya, seperti perlombaan, atau kegiatan kursus di masjid.

Menurut Sekretaris Umum Ikriwa, Khoirul Umam, jumlah kepengurusan remaja masjid di Masjid Taufiqillah ada 50 orang pengurus. Sedangkan anggota mencapai ratusan remaja yang ada di wilayah Wates. Selain perlombaan untuk memperingati turunnya al-Qur’an, remas juga mengadakan acara halal bi halal pada tanggal 3 Syawal 1431 H. kegiatan ini diadakan setiap tahunnya ketika lebaran tiba. “Kegiatan ini untuk menumbuhkan cinta ukhuwah islamiyah,” katanya.

Adapun beberapa perlombaan yang diikutkan adalah perlombaan qasidahan, cerdas cermat, sholawatan, dan syiar Ramadhan. Kegiatan jauh berkurang ketika diadakan tahun lalu, di mana model perlombaannya bisa mencapai 11 item. “Saat ini persiapan kurang ditambah dana yang terbatas,” ujarnya.

Selain menggelar acara perlombaan, remas yang tergabung dalam Ikriwa ini juga membuka kelas-kelas kursus di masjid. Saat ini ada dua kursus yang berjalan dan diikuti oleh 30 anak kurangg mampu untuk belajar Bahasa Inggris dan komputer. “Anak-anak belajarnya gratis dengan pengajar ada tiga orang,” katanya. Untuk mendukung berjalannya keegiatan harian ini, pengurus berinisiatif menjalin kerjasama dengan Darul Aitam dan mencari donatur-donatur yang peduli dengan pendidikan anak kurang mampu.

Publisher: masjid kita - 1:12:00 AM

Monday, January 13, 2014

, , , , ,

Walikota Josrizal Resmikan Masjid


Pada Jum’at (6/8), menjadi hari bersejarah bagi Muslim Kelurahan Cubadak Air, Kecamatan Payakumbuh Utara. Hari itu, Mushalla Al-Muttaqin berubah status menjadi masjid, yang ditandai dengan shalat Jum’at perdana di rumah suci itu. Walikota H. Josrizal Zain usai meresmikan pemakaian masjid, bersama anggota DPD-RI Ir. Reza Pahlevi, MT, Kakandepag Payakumbuh, sejumlah pimpinan SKPD serta Camat Payakumbuh Utara Erwan, SIP ikut shalat Jum’at berjamaah dengan kaum muslim Cubadak Air.

Selama ini, di kelurahan berpenduduk sekitar 758 jiwa itu, memiliki dua mushola, satu di antaranya Al-Muttaqin yang naik pangkat jadi masjid. Kaum muslim Cubadak Air, untuk Jumatan, harus jauh-jauh pergi ke masjid kelurahan tetangga, ke Padang Kaduduk dan Nan Kodok.

Menurut Camat Erwan, pembangunan masjid ini sepenuhnya didanai jamaah setempat, yang sudah menelan biaya mendekati Rp 968 juta. H. Masni, pengusaha gambir, penduduk Cubadak Air, di antara donator terkuat dalam membangun prasarana peribadatan itu.

Sementara, bangunan Mushola Al-Muttaqin yang bersebelahan dengan masjid baru, menurut panitia pengurus masjid, akan dimanfaatkan untuk kegiatan TPA/MDA dan untuk kegiatan sosial lainnya. Masjid Al-Muttaqin, terletak di atas tanah seluas 537 meter, sebagian wakaf Hj. Irma dan sebagian dibeli warga. “Belum rampung 100%, dan masih banyak lagi bagian yang harus dibangun, tapi sambil berjalan, jemaah bertekad akan menyelesaikan bangunan ini dengan cepat,” ungkap Camat.

Walikota Payakumbuh H. Josrizal Zain, ketika memberi sambutannya, berharap, agar peningkatan status mushola menjadi masjid, diiringi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan warga kepada Allah swt. Jelang puasa Ramadhan, menjadi momentum yang tepat dalam peresmian masjid, dan diharapkan membawa dampak positif dalam syiarnya agama Islam di tengah masyarakat.

Al-Muttaqin merupakan masjid ke-80 yang tersebar pada 76 kelurahan se-Kota Payakumbuh. Sementara itu, terjadi pengurangan satu mushola dari 358 menjadi 357 buah karena berubah status menjadi masjid.

Publisher: masjid kita - 1:06:00 AM

Saturday, January 11, 2014

, , ,

Kartun Nabi





Flemming Rose editor halaman budaya di surat kabar Denmark Jyllands Posten kembali akan buat sensasi. Setelah buat heboh menerbitkan kartun pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw pada tahun 2005 lalu, kini ia sedang mempersiapkan untuk menerbitkan kartun dalam sebuah buku.


Buku yang memuat kartun-kartun menghina Nabi Muhammad tersebut berjudul The Tyranny of Silence akan dirilis pada tanggal 30 September dalam peringatan ke-5 tahun atas dipublikasikannya 12 kartun yang menghina Nabi Muhammad, yang telah memicu gelombang protes kekerasan melawan Denmark di dunia Islam.

Flemming Rose dalam sebuah pernyataannya di surat kabar Politiken mengatakan bahwa penerbitan kembali kartun-kartun itu bukan bermaksud untuk melakukan provokasi. "Hal ini perlu diketahui kisah di balik 12 kartun itu dan penempataan kartun tersebut dalam konteks umum untuk dipakai contoh suatu tindakan yang dianggap menghina," kata Rose.

Di surat kabar Politiken, Flemming Rose juga mengatakan bahwa buku setebal 499 halaman yang nanti akan diterbitkannya itu akan menimbulkan perdebatan, namun ia menjelaskan kalau bukunya itu ingin menggambarkan berbagai hal termasuk penolakan terhadap Holocaust, aksi rasisme dan tindakan penghinaan. (islamtoday)


Publisher: masjid kita - 1:04:00 AM
, ,

Marshanda Hijrah Berjilbab





Ada yang beda dengan artis cantik yang satu ini. Marshanda atau yang biasa dipanggil Chacha telah menyatakan hijrah untuk terus mengenakan jilbab setelah mimpi beberapa kali tentang kiamat.


"Sebenarnya aku memang mimpi, tapi aku enggak tahu ada hubungannya apa enggak karena aku sempat mimpi lima hari berturut-turut, itu mimpi kiamat, kayak film Armageddon itu, dan aku takut banget," kisah Marshanda ketika hadir dalam acara buka bersama dan santunan untuk anak yatim piatu di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta Pusat.

Awalnya memang risih, imbuh Chacha, namun ia terus mencoba konsisten untuk berjilbab. Akhirnya setelah tanggal 12 Juni, ia benar-benar merubah total penampilannya. Bahkan ia akan menyeleksi tawaran-tawaran yang tidak mengenakan jilbab. "Insya Allah setiap ada sinetron aku mau tetap pakai jilbab. Kalau harus melepas, aku enggak mau," katanya.

"Aku sempat latihan pakai jilbab ke mal, tapi saat itu aku belum konsisten. Pas setelah bermimpi, aku semakin menyadari, mataku dibuka banget untuk bersyukur atas yang diberikan Allah, besar banget cinta Allah yang dikasih," ujar Chacha. "Besoknya aku pakai jilbab dan sampai sekarang alhamdulillah," papar kekasih pembawa acara Ben Kasyafani ini.

Setelah mengenakan jilbab, Chacha mengaku lebih tenang dan banyak bersyukur dengan yang diberikan Allah. “Insya Allah aku mantap pakai jilbab seterusnya,” tukasnya.

Publisher: masjid kita - 1:01:00 AM

Thursday, January 9, 2014

, , ,

Perjuangan seorang Marbot saat Kuliah

Tinggal di masjid kampus karena ekonomi dan idealisme ingin memakmurkan masjid, sempat berhenti kuliah karena ekonomi. Kini, ia merasa, berkah menjadi marbot mengantarkannya menjadi ahli geologi yang gemar menulis dan berorganisasi. Bagaimana kisahnya?

Di kamar 4 x 4 meter yang berada persis di samping masjid Salman ITB, Oman Abdurahman tinggal. Bukan tanpa alasan ia memilih menjadi marbot dari pada ngekos di luar kampus. Pasalnya, karena keterbatasan ekonomi dan keinginanannya untuk bisa dekat dengan masjid mengantarkannya menjadi sosok yang cinta masjid.


Oman lahir pada 14 Desember 1961 di Desa Lumbung (sekarang sudah menjadi kecamatan), Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga sederhana dan merupakan anak ke-7 dari 8 bersaudara. Ayahnya adalah seorang lebe (penghulu di tingkat desa/kerurahan) selama 40 tahuh di desanya.

Oman sudah ditinggalkan sang ayah tercinta saat kelas 2 SMP atau umur 14 tahunan. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang sangat setia, penuh pengabdian pada suaminya, dan membesar-besarkan anak-anaknya dengan ikhlas. Ini terbukti, hingga saat ini sang ibu yang masih sehat (83 tahun) tidak pernah bersuamikan lagi setelah ditinggal oleh ayah Oman.

”Pada waktu ayah meninggal, dari 8 bersaudara, hanya tiga yang sudah bekerja, yang dua sebagai guru SD, yang satu lagi honorer guru STM. Kakak yang baru honorer dengan berani mengambil saya untuk tinggal bersamanya dan melanjutkan sekolah ke SMA di Sukabumi,” ujar Oman.

Adalah tahun 1981, ketika ia berhasil melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai anak amil atau lebe, tak seberapa penghasilan ekonomi orangtuanya. Karena itulah Oman membulatkan tekad untuk mencari tempat gratisan untuk belajar dan menginap. Pilihan jatuh ke Asrama Masjid Salman di lingkungan Masjid Salman ITB sekaligus menjadi marbot.

Tak mudah ternyata untuk bisa marbot di Masjid Salman, karena ia harus mengikuti serangkaian tes dari pengurus masjid (Yayasan Pembina Masjid Salman) dan calon seniornya di Asrama Masjid Salman. Namun akhirnya, Oman diterima menjadi anggota marbot Masjid Salman. ”Alhamdulillah saya bisa tinggal di masjid dan bisa belajar agama banyak sekaligus kuliah,” katanya.

Masjid Salman merupakan masjid kampus yang menjadi laboratorium ruhani bagi masyarakat kampus ITB. Masjid ini menjadi wadah pembinaan insan, pengembangan masyarakat, dan pembangunan peradaban yang Islami. Berbagai rangkaian program dan kegiatan telah diselenggarakan di masjid ini.

Di masjid ini pula juga dibentuk lembaga-lembaga profesional beserta program-programnya. Diantaranya, Keluarga Remaja Masjid Salman (KARISMA) berikut kegiatan unggulannya: mentoring dan bimbingan belajar; Lembaga Pengembangan Manajemen dan Ekonomi Syariah (LPES) dengan pelatihan Ekonomi Syariah, Lembaga Muslimah Salman (LMS) yang berkembang dari pengajian ibu-ibu Salman dengan program Sekolah Pra Nikah dan Parenting Class, dan Lembaga Kaderisasi (LK) membina kader inti mahasiswa yang difasilitasi asrama putra (waktu itu baru asrama putra yang ada).

Selama menjadi marbot di Masjid Salman, ia merasa mendapatkan banyak pencerahan, utamanya pengetahuan tentang ilmu agama kian terasah dan kecerdasan sosialnya makin bertambah. Terlebih lagi di masjid ini kerap diadakan kajian Islam yang diisi oleh para pemikir handal seperti almarhum Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau yang biasa akrab dipanggil Bang Imad (alm), Prof. Ahmad Sadali (alm), K.H. Rusyad Nurdin (alm), Drs. Jalaluddin Rakhmat atau yang dikenal sebagai Kang Jalal (sekarang profesor), Drs. Ahmad Mansur Suryanegara (sekarang profesor), Drs. Moftah Faridl, dan lainnya.

Sebagai kader, Oman merasa tertuntut untuk meningkatkan kualitask keilmuannya. Karenanya tak heran jika ketika ia sedang sibuk belajar di kampus ITB pun, sesekali ia harus belajar agama Islam atau pun memikirkan program Masjid Salman. ”Kegiatan cukup padat, kegiatan di masjid dan belajar di kampus,” katanya.

Selama di masjid, Oman bersama beberapa temannya juga aktif menjaga masjid terutama kebersihan, keamanan, dan fasilitas terselenggaranya masjid dan kegiatannya, seperti listrik, air, dan lainnya. Semua kegiatan yang berkenaan dengan masjid ia jalankan dengan ikhlas.

Berbeda dengan para mahasiswa lain yang tak pusing-pusing memikirkan kegiatan masjid atau fokus pada belajar di kampus, tidak demikian halnya dengan Oman dan teman-teman seperjuangan. Mereka harus membagi waktu dan tenaganya untuk memakmurkan Masjid Salman.

“Saya yakin, ke depan aktivitas masjid ini akan membawa berkah,” ujarnya.
Pagi, sebelum adzan Shubuh berkumandang, Oman sudah harus rela mengurangi tidurnya untuk membangunkan penduduk sekitar dengan lantunan kumandang adzan. Usai shalat, ia pun harus menjaga kebersihan masjid dan lingkungan sekitarnya agar kondisinya tetap bersih dan nyaman, karena biasanya masjid ini selalu dipadati para mahasiswa baik yang sedang ibadah, belajar maupun sekadar melepas lelah. Dua hari dalam seminggu para marbot ini harus melaksakan kegiatan rutin, yaitu menyiapkan penyelenggaraan shalat Jum’at. Hari Ahad, menyiapkan pelaksanaan kuliah dhuha sekaligus menghadirkan penceramahnya dan pelaksanaan mentoring Karisma.

Begitulah, hampir selama tiga tahun, Oman mengabdikan dirinya untuk kemakmuran masjid. Namun karena kondisi ekonomi yang tetap kurang mencukupi untuk biaya kuliah, akhirnya ia pun memutuskan berhenti kuliah untuk sementara guna bekerja. Bersamaan dengan itu, ia pun keluar dari anggota marbot, alias tidak tinggal lagi di Asrama Masjid Salman.

Alasannya sederhana saja: “Bila saya masih di asrama Salman, sementara saya bekerja, tentu saya tidak akan mampu melaksanakan kewajiban saya sebagai marbot. Karena itu, sudah semestinya saya keluar dari asrama,” ujarnya.

Selama satu tahun ia fokuskan untuk bekerja kepada salah seorang dosen, yaitu menjadi asistennya. Pekerjaannya sebagai penyediaan sumber daya air di sebuah lokasi transmigrasi di pedalaman Kutai, Provinsi Kalimantan Timur pada waktu itu (1986) merupakan kerja pertama Oman yang diperoleh dari dosennya.

Setelah setahun bekerja, ia juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Dari sang dosen, ia banyak belajar membuat proposal, merencanakan pekerjaan, menangangi masalah-masalah nyata di lapangan, menyusun laporan, makalah, bahkan menjalankan proyek.
”Saya tidak hanya bekerja tapi juga belajar dari yang lebih mengerti,” katanya.
Setelah ia rasa cukup, akhirnya Oman pun kembali ke habitatnya lagi, yakni belajar di kampus melanjutkan kuliahnya yang sempat koma selama satu tahun karena faktor ekonomi.

Namun, kali ini, ia tak lagi tinggal di masjid, alasannya ia ingin fokus belajar untuk menyelesaikan kuliahnya, dan memberi kesempatan kepada yang lain yang lebih muda dan memerlukan tempat tinggal serta tempat pengkaderan berupa lingkungan masjid . Kendati demikian, ia masih sering mengikuti beberapa kegiatan Masjid Salman.

”Bagaimana pun juga, Masjid Salman banyak memberikan dorongan, peran, dan fasilitas dalam hidup saya. Di Masjid Salman saya banyak belajar agama, ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, tanggungjawab dan organisasi. Itu semua telah memberikan warna dalam hidup saya, makanya saya tidak bisa melupakan begitu saja,” tuturnya.

Pesan Oman bagi para marbot yang tinggal di masjid: ”Hidup terus berputar, adakalanya di atas, ada juga saatnya di bawah. Karena itulah membekali diri dengan belajar nilai-nilai Islam menjadi kemutlakan untuk menghindari diri dari kekufuran dan terhindar dari pengaruh lingkungan yang buruk. Bagaimanapun keadaan kita, sepatutnya kita selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan,” katanya.

Sedangkan untuk menghindari pemahaman Islam yang di luar konteks atau terbawa aliran-aliran yang menyesatkan, ia berpesan agar para marbot seyogyanya banyak belajar Islam secara benar dan terbuka. Dengan demikian, maka hidup beragam akan lebih toleran terhadap penganut aliran atau madzhab lain, bahkan terhadap agama yang lain sekalipun, selama tidak menindas kemanusiaan. Dan toleransi, menurut satu keterangan yang diterimanya dari salah seorang ustadznya merupakan puncak keimanan. Itulah inti yang diajarkan Islam.

Setelah menamatkan kuliah pada tahun 1988, Oman dengan kemampuannya berhasil menjadi salah satu pegawai negeri di sebuah instansi Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Bandung. Pada tahun 2000 ia pun menyelesaikan pendidikan S2 nya di ITB jurusan Rekayasa Pertambangan, bidang Hidrogeologi atau Air Tanah. Meskipun ia tak menjadi dosen sebagaimana banyak temannya yang marbot menjadi dosen ITB, ia tetap bersyukur karena bisa mengaplikasikan apa yang pernah ia pelajari untuk kemslahatan.

Kini ia sebagai Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Laporan pada instansinya tersebut dengan tugas selain penyusunan renstra, perencanaan kegiatan tahunan dan evaluasinya, juga penyebarluasan informasi, termasuk mengasuh jurnal dan buletin terbitan instansinya.
”Saya merasa, semua itu karena berkah Allah. Karena menjadi marbot sambil tetap berusaha dalam setiap keadaan, saya sekarang bekerja, menikmati pekerjaan, dan pekerjaan pun dihargai orang” katanya.



Publisher: masjid kita - 12:57:00 AM