Popular Posts

About Us

Majalah Islam dengan tag line Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat ini memiliki karakter media interaksi dalam membangun komunikasi >>

Arsip Blog

Serangan di Gaza

JALUR GAZA, Selasa (Ma'an News): Di dalam kantor sempit Ashraf Al-Qidra di Rumah Sakit Shifa, Kota Gaza, telepon tidak pernah berhenti berdering. Selama 20 hari penyerangan mengerikan dari penjajah zionis ‘Israel’ terhadap Jalur Gaza, lebih dari 1.060 warga Palestina di Gaza terbunuh dan 6.000 lainnya terluka. Sebagai juru bicara layanan darurat Gaza, adalah tugas Qidra untuk menghitung jumlah korban yang meninggal.

Sejak operasi militer penjajah dimulai pada 8 Juli lalu, Qidra hanya tidur dua jam setiap harinya di matras di dalam kantornya. Para stafnya terus menginformasikan kepada Qidra tentang korban terbaru dari serangan penjajah dan ia terus menjawab telepon para wartawan yang mencari rincian jumlah korban terbaru.

Ketika ia berbaring sebentar untuk beristirahat, tiba-tiba asistennya bergegas masuk ke kantornya, “Dokter Qidra, ada banyak korban meninggal dan terluka dalam pengeboman Rumah Sakit Syuhada!”

Sang asisten terengah-engah menyampaikan berita tersebut. Qidra pun langsung terbangun kembali dan melanjutkan bekerja. Ia menelepon rumah sakit dan berkoordinasi untuk mendata korban yang meninggal dan terluka.

“Tidak ada tempat yang aman dari pengeboman ‘Israel’. Mereka mengebom RS Al-Wafa, RS Syahada, dan RS Eropa. Musuh telah menjadi gila, melampaui gila. Ada bencana setelah bencana.” kata Qidra.

Ketika teleponnya berbunyi, ia mencatat bahwa ada tambahan korban, lima warga Gaza meninggal dan 70 terluka dalam serangan ke RS Syuhada di Khan Younis.

Lalu teleponnya berbunyi lagi, tetapi kali ini istrinya yang menelepon. Qidra menanyakan kabar istri dan keempat anaknya, memastikan mereka tetap aman. Qidra baru satu kali menengok keluarganya dalam tiga minggu ini.

“Aku merindukan mereka,” kata Qidra. Sebagaimana warga Gaza pada umumnya, Qidra juga berjuang keras mendukung mereka. Sudah berbulan-bulan, Qidra belum menerima gajinya. Akan tetapi, Qidra tetap menjalankan pekerjaannya yang termasuk menjawab 700 telepon masuk setiap harinya.

Menurut Qidra, konflik ini telah mempengaruhinya secara emosional. “Aku melihat jenazah dan bagian-bagian tubuh mereka setiap waktu. Namun, ini benar-benar menghancurkan hatiku, apalagi ketika melihat jenazah para wanita dan anak-anak yang menjadi korban.” * (Ma’an News|Sahabat Al-Aqsha)

Sumber; sahabatalaqsha.com
< >
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. nice post sob..
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...salam kenal yach...
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    agen poker online terpercaya...poker uang asli..
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/
    di oliviaclub.com poker online uang asli terbaik di indonesia dengan teknologi teraman dan tercanggih.
    main dan ajak teman anda bergabung dan dapatkan 20% referral fee dari house commision untuk turnover teman ajakan anda...
    kunjungi link unggulan kami:
    -http://mentaripoker.com
    -http://royalflush.com
    -http://rimbapoker.com
    blognya temen http://poker-online-indonesia-2014.blogspot.com/

    ReplyDelete

Terimakasih untuk kesediaannya bertandang dan sekedar mencoretkan beberapa jejak makna di blog ini. Sekali lagi terimakasih. Mohon maaf jika kami belum bisa melakukan yang sebaliknya pada saudara-saudari semua.

Get Update Article on FacebookX

Find Us on Facebook

Get Update Article on Google+X

Follow Us on Google+