Popular Posts

About Us

Majalah Islam dengan tag line Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat ini memiliki karakter media interaksi dalam membangun komunikasi >>

Arsip Blog

Perjuangan seorang Marbot saat Kuliah

Tinggal di masjid kampus karena ekonomi dan idealisme ingin memakmurkan masjid, sempat berhenti kuliah karena ekonomi. Kini, ia merasa, berkah menjadi marbot mengantarkannya menjadi ahli geologi yang gemar menulis dan berorganisasi. Bagaimana kisahnya?

Di kamar 4 x 4 meter yang berada persis di samping masjid Salman ITB, Oman Abdurahman tinggal. Bukan tanpa alasan ia memilih menjadi marbot dari pada ngekos di luar kampus. Pasalnya, karena keterbatasan ekonomi dan keinginanannya untuk bisa dekat dengan masjid mengantarkannya menjadi sosok yang cinta masjid.


Oman lahir pada 14 Desember 1961 di Desa Lumbung (sekarang sudah menjadi kecamatan), Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga sederhana dan merupakan anak ke-7 dari 8 bersaudara. Ayahnya adalah seorang lebe (penghulu di tingkat desa/kerurahan) selama 40 tahuh di desanya.

Oman sudah ditinggalkan sang ayah tercinta saat kelas 2 SMP atau umur 14 tahunan. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang sangat setia, penuh pengabdian pada suaminya, dan membesar-besarkan anak-anaknya dengan ikhlas. Ini terbukti, hingga saat ini sang ibu yang masih sehat (83 tahun) tidak pernah bersuamikan lagi setelah ditinggal oleh ayah Oman.

”Pada waktu ayah meninggal, dari 8 bersaudara, hanya tiga yang sudah bekerja, yang dua sebagai guru SD, yang satu lagi honorer guru STM. Kakak yang baru honorer dengan berani mengambil saya untuk tinggal bersamanya dan melanjutkan sekolah ke SMA di Sukabumi,” ujar Oman.

Adalah tahun 1981, ketika ia berhasil melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai anak amil atau lebe, tak seberapa penghasilan ekonomi orangtuanya. Karena itulah Oman membulatkan tekad untuk mencari tempat gratisan untuk belajar dan menginap. Pilihan jatuh ke Asrama Masjid Salman di lingkungan Masjid Salman ITB sekaligus menjadi marbot.

Tak mudah ternyata untuk bisa marbot di Masjid Salman, karena ia harus mengikuti serangkaian tes dari pengurus masjid (Yayasan Pembina Masjid Salman) dan calon seniornya di Asrama Masjid Salman. Namun akhirnya, Oman diterima menjadi anggota marbot Masjid Salman. ”Alhamdulillah saya bisa tinggal di masjid dan bisa belajar agama banyak sekaligus kuliah,” katanya.

Masjid Salman merupakan masjid kampus yang menjadi laboratorium ruhani bagi masyarakat kampus ITB. Masjid ini menjadi wadah pembinaan insan, pengembangan masyarakat, dan pembangunan peradaban yang Islami. Berbagai rangkaian program dan kegiatan telah diselenggarakan di masjid ini.

Di masjid ini pula juga dibentuk lembaga-lembaga profesional beserta program-programnya. Diantaranya, Keluarga Remaja Masjid Salman (KARISMA) berikut kegiatan unggulannya: mentoring dan bimbingan belajar; Lembaga Pengembangan Manajemen dan Ekonomi Syariah (LPES) dengan pelatihan Ekonomi Syariah, Lembaga Muslimah Salman (LMS) yang berkembang dari pengajian ibu-ibu Salman dengan program Sekolah Pra Nikah dan Parenting Class, dan Lembaga Kaderisasi (LK) membina kader inti mahasiswa yang difasilitasi asrama putra (waktu itu baru asrama putra yang ada).

Selama menjadi marbot di Masjid Salman, ia merasa mendapatkan banyak pencerahan, utamanya pengetahuan tentang ilmu agama kian terasah dan kecerdasan sosialnya makin bertambah. Terlebih lagi di masjid ini kerap diadakan kajian Islam yang diisi oleh para pemikir handal seperti almarhum Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau yang biasa akrab dipanggil Bang Imad (alm), Prof. Ahmad Sadali (alm), K.H. Rusyad Nurdin (alm), Drs. Jalaluddin Rakhmat atau yang dikenal sebagai Kang Jalal (sekarang profesor), Drs. Ahmad Mansur Suryanegara (sekarang profesor), Drs. Moftah Faridl, dan lainnya.

Sebagai kader, Oman merasa tertuntut untuk meningkatkan kualitask keilmuannya. Karenanya tak heran jika ketika ia sedang sibuk belajar di kampus ITB pun, sesekali ia harus belajar agama Islam atau pun memikirkan program Masjid Salman. ”Kegiatan cukup padat, kegiatan di masjid dan belajar di kampus,” katanya.

Selama di masjid, Oman bersama beberapa temannya juga aktif menjaga masjid terutama kebersihan, keamanan, dan fasilitas terselenggaranya masjid dan kegiatannya, seperti listrik, air, dan lainnya. Semua kegiatan yang berkenaan dengan masjid ia jalankan dengan ikhlas.

Berbeda dengan para mahasiswa lain yang tak pusing-pusing memikirkan kegiatan masjid atau fokus pada belajar di kampus, tidak demikian halnya dengan Oman dan teman-teman seperjuangan. Mereka harus membagi waktu dan tenaganya untuk memakmurkan Masjid Salman.

“Saya yakin, ke depan aktivitas masjid ini akan membawa berkah,” ujarnya.
Pagi, sebelum adzan Shubuh berkumandang, Oman sudah harus rela mengurangi tidurnya untuk membangunkan penduduk sekitar dengan lantunan kumandang adzan. Usai shalat, ia pun harus menjaga kebersihan masjid dan lingkungan sekitarnya agar kondisinya tetap bersih dan nyaman, karena biasanya masjid ini selalu dipadati para mahasiswa baik yang sedang ibadah, belajar maupun sekadar melepas lelah. Dua hari dalam seminggu para marbot ini harus melaksakan kegiatan rutin, yaitu menyiapkan penyelenggaraan shalat Jum’at. Hari Ahad, menyiapkan pelaksanaan kuliah dhuha sekaligus menghadirkan penceramahnya dan pelaksanaan mentoring Karisma.

Begitulah, hampir selama tiga tahun, Oman mengabdikan dirinya untuk kemakmuran masjid. Namun karena kondisi ekonomi yang tetap kurang mencukupi untuk biaya kuliah, akhirnya ia pun memutuskan berhenti kuliah untuk sementara guna bekerja. Bersamaan dengan itu, ia pun keluar dari anggota marbot, alias tidak tinggal lagi di Asrama Masjid Salman.

Alasannya sederhana saja: “Bila saya masih di asrama Salman, sementara saya bekerja, tentu saya tidak akan mampu melaksanakan kewajiban saya sebagai marbot. Karena itu, sudah semestinya saya keluar dari asrama,” ujarnya.

Selama satu tahun ia fokuskan untuk bekerja kepada salah seorang dosen, yaitu menjadi asistennya. Pekerjaannya sebagai penyediaan sumber daya air di sebuah lokasi transmigrasi di pedalaman Kutai, Provinsi Kalimantan Timur pada waktu itu (1986) merupakan kerja pertama Oman yang diperoleh dari dosennya.

Setelah setahun bekerja, ia juga mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Dari sang dosen, ia banyak belajar membuat proposal, merencanakan pekerjaan, menangangi masalah-masalah nyata di lapangan, menyusun laporan, makalah, bahkan menjalankan proyek.
”Saya tidak hanya bekerja tapi juga belajar dari yang lebih mengerti,” katanya.
Setelah ia rasa cukup, akhirnya Oman pun kembali ke habitatnya lagi, yakni belajar di kampus melanjutkan kuliahnya yang sempat koma selama satu tahun karena faktor ekonomi.

Namun, kali ini, ia tak lagi tinggal di masjid, alasannya ia ingin fokus belajar untuk menyelesaikan kuliahnya, dan memberi kesempatan kepada yang lain yang lebih muda dan memerlukan tempat tinggal serta tempat pengkaderan berupa lingkungan masjid . Kendati demikian, ia masih sering mengikuti beberapa kegiatan Masjid Salman.

”Bagaimana pun juga, Masjid Salman banyak memberikan dorongan, peran, dan fasilitas dalam hidup saya. Di Masjid Salman saya banyak belajar agama, ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, tanggungjawab dan organisasi. Itu semua telah memberikan warna dalam hidup saya, makanya saya tidak bisa melupakan begitu saja,” tuturnya.

Pesan Oman bagi para marbot yang tinggal di masjid: ”Hidup terus berputar, adakalanya di atas, ada juga saatnya di bawah. Karena itulah membekali diri dengan belajar nilai-nilai Islam menjadi kemutlakan untuk menghindari diri dari kekufuran dan terhindar dari pengaruh lingkungan yang buruk. Bagaimanapun keadaan kita, sepatutnya kita selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan,” katanya.

Sedangkan untuk menghindari pemahaman Islam yang di luar konteks atau terbawa aliran-aliran yang menyesatkan, ia berpesan agar para marbot seyogyanya banyak belajar Islam secara benar dan terbuka. Dengan demikian, maka hidup beragam akan lebih toleran terhadap penganut aliran atau madzhab lain, bahkan terhadap agama yang lain sekalipun, selama tidak menindas kemanusiaan. Dan toleransi, menurut satu keterangan yang diterimanya dari salah seorang ustadznya merupakan puncak keimanan. Itulah inti yang diajarkan Islam.

Setelah menamatkan kuliah pada tahun 1988, Oman dengan kemampuannya berhasil menjadi salah satu pegawai negeri di sebuah instansi Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Bandung. Pada tahun 2000 ia pun menyelesaikan pendidikan S2 nya di ITB jurusan Rekayasa Pertambangan, bidang Hidrogeologi atau Air Tanah. Meskipun ia tak menjadi dosen sebagaimana banyak temannya yang marbot menjadi dosen ITB, ia tetap bersyukur karena bisa mengaplikasikan apa yang pernah ia pelajari untuk kemslahatan.

Kini ia sebagai Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Laporan pada instansinya tersebut dengan tugas selain penyusunan renstra, perencanaan kegiatan tahunan dan evaluasinya, juga penyebarluasan informasi, termasuk mengasuh jurnal dan buletin terbitan instansinya.
”Saya merasa, semua itu karena berkah Allah. Karena menjadi marbot sambil tetap berusaha dalam setiap keadaan, saya sekarang bekerja, menikmati pekerjaan, dan pekerjaan pun dihargai orang” katanya.



< >
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih untuk kesediaannya bertandang dan sekedar mencoretkan beberapa jejak makna di blog ini. Sekali lagi terimakasih. Mohon maaf jika kami belum bisa melakukan yang sebaliknya pada saudara-saudari semua.

Get Update Article on FacebookX

Find Us on Facebook

Get Update Article on Google+X

Follow Us on Google+