Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, January 29, 2014

, , , ,

Seruan untuk berdoa

Do’a dalam Islam, adalah menyembah Allah SWT, memanjatkan permohonan dan harapan kepada Allah SWT, mengucapkan pujian-pujian yang merupakan bentuk rasa syukur kepada segala karunia-Nya.

Bagian dari cara hidup, yang didasarkan pada pengajuan ke Pemilik dari seluruh alam semseta. Setiap muslim harus berusaha untuk mengingat Allah SWT setiap saat, menyadari bahwa segala sesuatu yang mampu dilakukannya, adalah karena rahmat Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Do’a itu adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca: Allah SWT berfirman:"Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (HR Tirmidzi 3294)

Selain itu, Nabi pun bersabda:”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada do’a.” (HR Ibnu Majah 3819). Beberapa surat di dalam Al-Qur’an juga menyebutkan seruan untuk berdo’a yaitu: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran” (Q.S 2:186), “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki0laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S 4:32)

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh , Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S: 7: 55-56).

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya, dan menghilangkan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat”.(Q.S 27:62)

Mengapa Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang gemar berdo’a, karena aktivitas berdo’a adalah untuk berharap (atas segala kebaikan bagi dirinya maupun bagi orang lain), kepada Zat yang lebih tinggi, agung, dan mulia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mengakui kehambaannya, bahwa meskipun sang pencipta menganugerahkan akal fikiran, ia tetap merasa kecil, hina, dan tak berdaya di hadapan Tuhan. Dengan berdo’a manusia mengakui kelemahan dan ketidaksempurnaannya. Mengapa? Karena ia sangat faham kedudukan yang sebenarnya di dunia ini, bahwa segala upaya manusia untuk tampil mulia dan kuat di hadapan manusia lainnya tidak akan pernah dapat tercapai kecuali dengan izin-Nya.
Menurut penelitian do’a adalah komplemen yang paling umum untuk obat utama, jauh melampaui akupunktur, herbal, vitamin dan pengobatan alternatif lainnya. Studi tersebut juga menemukan bahwa mereka yang berdoa (berusia antara 65 dan 74 tahun), memiliki tekanan darah lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang tidak berdoa. Kesehatan merupakan salah satu bentuk rahmat yang diberikan-Nya.
Benar bahwasannya, Rasulullah SAW menjelaskan fadhilah berdo’a antara lain bahwa Allah SWT mencintai orang yang berdo’a dan menjadikannya dekat dengan-Nya, Orang yang berdo’a akan mendapatkan ridha, rahmat, dan petunjuk Allah SWT, mendapatkan ampunan Allah SWT, mendapatkan keleluasaan rezeki dan dimudahkan dari kesulitan. Amin ya Rabbal ‘Alamin..

Asqarini

Sumber: 

Al-Qur’an
Majmu Syarif Kamil
artprian.files.wordpress.com/2011/06/doa.jpg


Publisher: masjid kita - 1:26:00 AM

Sunday, January 26, 2014

, , ,

Prinsip Manajemen Masjid II


Nabi begitu peduli dan mengenal baik setiap jamaah masjid. Nabi juga mengetahui kehadiran setiap jamaah dengan cara mengecek jamaahnya. Kemudian Nabi mengetahui keadaan masing-masing jamaahnya, baik kesehatan, ekonomi, maupun kesulitan yang dihadapi jamaah.

Bahkan Nabi menggunakan masjid sebagai tempat untuk saling mengenal keadaan setiap jamaah dan berbagi antara yang mampu dengan yang tidak mampu secara transparan.

Contoh-contoh Nabi ini memiliki kandungan manajemen sangat tinggi dan bermakna dalam. Karena itu, sungguh sangat relevan bila contoh-contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW itu direalisasikan dalam pengelolaan masjid pada saat ini. Tentu hal ini diawali dengan menunjukkan kecintaan kepada masjid, sejalan dengan hadis berikut ini: “Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya.” (H.R. Thabrani).

Tentu mencintai masjid ini tidak hanya ditunjukkan hanya dengan selalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat, melainkan juga menjaga wibawa masjid. Masjid harus lebih bagus dari rumah tempat tinggal jamaah. Namun bukan berarti berlomba-lomba memperbagus masjid, sedangkan upaya memakmurkannya sangat kurang. Tidak sedikit masjid yang dengan susah payah dibangun, tapi akhirnya sepi dari jamaah dan kegiatan umat.

Masjid harus menunjukkan semangat dan kecintaan jamaahnya, karena Allah SWT juga menyatakan bahwa tempat yang paling disukai-Nya adalah masjid dan yang paling tidak disukai-Nya adalah pasar. Hal ini tercermin dalam hadits: “Bagian bumi yang dicintai Allah ialah masjid dan bagian yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (H.R. Muslim).

Dari kecintaan pada masjid itu, akan lahir keikhlasan untuk mengurus dan mengelolanya dengan baik. Kemudian mengajak dengan cara-cara yang baik pula agar orang yang belum berjamaah di masjid akhirnya tertarik untuk ikut berjamaah.

Setelah itu, insya Allah, kegiatan di masjid akan semakin semarak dan gaung syiarnya akan menggetarkan jiwa orang-orang untuk selalu terpaut hati dan pikirannya pada masjid, sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.


Publisher: masjid kita - 1:25:00 AM

Wednesday, January 22, 2014

, , , ,

Al-Quran Berwarna


Akhir-akhir marak al-Qur’an dengan tampilan warna warni, bukan apa-apa, warna-warna itu ternyata bukan hanya sebagai pemanis perwajahan tapi dalam upaya mempermudah pembaca dalam membaca al-Qur’an dengan benar sesuai makhrajnya.

Al-Quran berwarna ini cukup menarik, tak seperti al-Qur’an biasa yang selama ini kita kenal. Di dalamnya pun tidak seperti al-Qur’an pada umumnya, di mana setiap blok warna menunjukkan ketentuan-ketentuan tajwid yang mengikuti ketentuan paling shahih (disepakati para ulama). Karya inovatif dan fenomenal ini sengaja dihadirkan sebagai sebuah kesadaran akan pentingnya membaca al-Qur’an dengan ketentuan tajwid.

Mudahnya Membaca Al-Quran Berwarna

Ketentuan bacaan dipermudah melalui alat peraga kode warna, misalnya saat bacaan mendengung, memantul, suara sengau dari hidung dan lain-lain, masing-masing dibuatkan warna cetakan yang berbeda-beda. Mushaf al-Quran dengan penjelasan tajwid yang dipermudah dengan menggunakan warna ini dilengkapi dengan penjelasan ketentuan-ketentuan tajwid dalam bahasa Indonesia (huruf latin) yang mudah dipahami.

Ketentuan-ketentuan tajwid tersebut berdasarkan bacaan tajwid ala qiraat ‘ashim yang diriwayatkan Imam Al-Hafs, yang merupakan cara baca yang paling banyak dipergunakan umat Islam di seluruh dunia, terutama di Indonesia dari tujuh riwayat cara baca (qiraat sab’ah).

Selain itu, blok warna yang dipergunakan dalam menentukan tajwid juga menuntun pembaca agar lebih memperhatikan tekanan, fonetik, irama serta cara membaca al-Qur’an. Al-qur'an ini juga sudah dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Lahirnya penerbitan mushaf al-Qur’an dengan metode pemberian kode warna ini merupakan karya inovatif dari tiga bersaudara, yakni Abdus Sami, Abdul Nareem dan Abdul Moin yang memang telah lama bergelut dalam bidang penerbitan buku-buku Islam.

Di ilhami dari aturan lampu lalu lintas yang bersifat universal di mana warna merah berarti pemakai jalan harus berhenti, warna kuning menunjukkan persiapan jalan serta hijau berarti silahkan jalan. Sistem “traffic light” inilah yang kemudian diadopsi ke dalam tuntunan bagi kemudahan umat Islam dalam membaca al-Qur’an dengan benar dan baik. Setelah melalui proses pemikiran yang panjang akhirnya pada 4 Januari 2002, karya inovatif ini dipublikasikan pada umat Islam di seluruh dunia.

Peluncuran secara resmi mushaf al-Qur’an untuk Indonesia ini bertepatan dengan kegiatan Musabaqah Tilawah al-Qur’an (MTQ) Nasional ke XXI di kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada tanggal 30 Juli 2006 oleh Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Republik Indonesia mewakili Menteri Agama Republik Indonesia. Metode ini diharapkan bisa menambah keinginan mansyarakat untuk lebih sering membaca Al-Quran karena mayoritas masyarakat Indonesia secara psikologis lebih banyak yang bertipe visual atau senang dengan hal-hal yang menarik mata.

Download link : www.quranflash.com/en/download/index.html
Publisher: masjid kita - 1:19:00 AM

Friday, January 17, 2014

, , ,

Siwak Tradisi Para Ulama


Di balik sunah yang diajurkan Rasulullah, ternyata batang pohon ini menyimpan khasiat dan manfaat bagi penggunanya. Membiasakan bersiwak berarti menghindari penyakit. Kalau sering melihat sebagian umat Islam menggunakan sebatang kayu kecil untuk menggosok gigi, itulah siwak. Siwak mulai digunakan untuk membersihkan gigi dan mulut sejak 7000 tahun lalu.

Menurut catatan sejarah, siwak atau miswak (chewing stick atau kayu kunyah) telah digunakan oleh orang-orang Babilonia, yang kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani, Romawi, orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan Islam.

Sebelum Islam datang, bangsa Arab menggunakan akar dan ranting kayu pohon arak yang hanya tumbuh di daerah Asia Tengah dan Afrika. Namun penggunaan kayu wangi ini hanya sebagai alat kebersihan gigi, sebelum disunahkan. Setelah kedatangan Islam, Rasulullah menetapkan penggunaan siwak sebagai sunah yang sangat dianjurkan. Hal ini menunjukkan bahwa, Rasulullah orang pertama yang mendidik manusia memelihara kesehatan gigi.

Sejak saat itu siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika hingga wilayah melayu seperti Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar mereka menggunakan karena faktor religi, budaya dan sosial. Dalam sehari, umat Islam di Timur Tengah menggunakan siwak minimal lima kali sehari, disamping sikat gigi biasa.

Menurut penelitian ilmuwan Erwin dan Lewis (1989), pengguna siwak memiliki relativitas rendah terkena penyakit gigi. Meskipun mereka mengonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat. Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut.

Sementara menurut al-Lafi dan Ababneh (1995) kayu siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang, serta memelihara gusi. Karena siwak memiliki kandungan kimiawi yang membawa manfaat.

Dalam buku Kifayatul-Akhyar, al-Imam Taqiyuddin Abubakar al-Husaini (Bina Ilmu, Surabaya 1984) dijelaskan bahwa Aisyah RA pernah melihat Rasulullah menggunakan siwak. Rasulullah bersabda: “Dua rakaat shalat bersiwak, lebih utama daripada tujuh rakaat tanpa siwak.” (HR Abu Na’im)

Siwak sunah digunakan ketika akan melakukan shalat, bukan karena alasan berubahnya bau mulut. Bahkan, bersiwak disunahkan untuk dikerjakan setiap dua rakaat, ketika seseorang melakukan shalat berkali-kali, seperti shalat Dhuha, Tarawih dan Tahajjud.

Demikian pula dalam buku Fikih Islam Lengkap, karya Abdul Fatah Idris dan Abu Ahmadi (Rineka Cipta, Jakarta 1988). Menurutnya, ada tiga hal seseorang disunahkan menggunakan siwak sebagai pembersih gigi dan mulut. Yaitu ketika hendak mengerjakan shalat, bangun tidur, berbau mulut, dan hendak membaca al-Qur’an.
Satu peristiwa penting pernah teradi. Menjelang ajal menjemput, Rasululah sempat bersiwak. Dari Aisyah RA, ia berkata: ”Pada hari kematiannya (Rasulullah SAW), datang Abdurrahman ibn Abu Bakar RA dan ditangannya ada sebatang siwak. Sedangkan aku menjadi sandaran Nabi. Lalu aku melihat Rasulullah memandang siwak Abdurrahman Abu Bakar.
Akupun paham bahwa beliau menyukai siwak. Maka aku bertanya: ”Apakah mau aku ambilkan untukmu?” Beliau memberi isyarat dengan kepala sebagai tanda ’Ya’. Lalu aku lembutkan siwak itu, kemudian beliau menyuruh diambilkan sebuah panci yang berisi air. Maka beliau memasukkan tangannya ke dalam panci itu, seraya mengusapkan ke wajah.

Kemudian mengucapkan: ”Lâ ilâha illallâh, sesungguhnya maut itu memiliki sekarat.” Kemudian beliau angkat tangan untuk berdoa: ”Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama para kawanku yang mulia (para Nabi AS).” Beliau terus berdoa sampai nyawanya dicabut, lalu kedua tangan beliau turun ke bawah.” (HR Bukhari)

Kandungan Siwak

Subhanallah... Di balik penyariatan sunahnya bersiwak, ternyata batang tumbuhan ini mengandung substansi anti bakteri yang luar biasa manfaatnya:

- Kandungan kimia. Seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl Amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar. Menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.

- Enzim yang mencegah pembentukan plaque penyebab radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

- Anti decay agent (zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu, siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur). Saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Publisher: masjid kita - 1:15:00 AM

Wednesday, January 15, 2014

, , , , , , ,

Sufi Abu Nawas


Sebagai penyair, tingkah laku Abu Nawas cukup aneh dan slebor. Tingkah lakunya membuat orang selalu mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya. Ditambah sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Namun, di mata Ismail bin Nubakht, Abu Nawas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan.

Berbekal kepiawaiannya menulis puisi, Abu Nawas bisa berkenalan dengan para pangeran. Sejak dekat para bangsawan, puisi-puisinya berubah memuja penguasa. Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.

Puncaknya, syair Abu Nawas menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya didapuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.
Namun kedekatannya dengan khalifah berujung di jeruji besi. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Ia lantas di penjara.
Sejak mendekam di penjara, puisi-puisinya berubah menjadi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.

Setelah bebas, dia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia hengkang dari Baghdad setelah kejayaan Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu, ia hijrah ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nawas akhirnya kembali lagi ke Baghdad, setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan Al-Amin.

Sajak-sajak pertobatan Abu Nawas bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang dirilisnya menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan. Setelah menemukan Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad.

Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuat Abu Nawas menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering melawak, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.

Publisher: masjid kita - 1:11:00 AM
, , , , , ,

Abunawas, sang Legenda I

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla, wala aqwa 'ala naril jahimi. Fahab li tawbatan waghfir dzunubi fainaka ghafirud dzanbil adzimi.

Senandung syair di atas tak asing lagi bagi sebagai umat Islam di Indonesia. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, biasanya para jamaah melantunkannya dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski telah 11 abad, syair itu tetap abadi di hati jamaah.





Legenda syair pengingat dosa dan kematian, tak lepas dari sang pengarang yang alim, yakni Abu Nawas. Sosok sufi yang tetap dikenang sepanjang masa. Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam.


Abu Nawas banyak dikenal lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nawas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik personal maupun pemerintahan yang dibungkus dengan humor.

kelahiran Abu Nawas tak diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahirannya. Diperkirakan, ia lahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut di Damaskus, Bursa. Bahkan versi lain menyebut dia lahir di Ahwaz.
Ayahnya, bernama Hani, anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun dari Persia.
Abu Nawas kecil, pernah dijual oleh sang ibu kepada penjaga toko dari Yaman, Sa'ad Al-Yashira. Abu Nawas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra, Irak. Sejak remaja, otaknya yang encer menarik perhatian Walibah ibnu A-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Sejak itu, Al-Hubab mengajarinya teologi dan tata bahasa. Ia juga diajari menulis puisi. Sejak itulah, ia tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf Al-Ahmar di Kufah.

Ketika muda, puisi-puisi yang dikarangnya kerap diinspirasi khammar (minuman keras), salah satunya khumrayat (penggambaran minuman keras). Adalah Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nawas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras.

Bersambung...
Publisher: masjid kita - 1:08:00 AM

Monday, January 13, 2014

, , ,

Dahsyatnya Sabar

Ratusan tahun sebelum para psikolog menyatakan bahwa marah dapat meracuni hati, Nabi Muhammad saw sudah mengingatkan kita agar bersabar dalam menjalani hidup. "Orang kuat bukan orang yang bisa menjatuhkan lawannya sekali pukul," kata Nabi, "namun orang yang bisa mengendalikan emosinya saat ia dibakar amarah."

Marah adalah fitrah manusia. Namun, hanya marah kepada orang yang tepat, pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, dan dalam kadar yang tepat yang dibenarkan dalam Islam. Menyalurkan marah secara tepat hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesabaran. Tanpa ada kesabaran, marah akan meluap tanpa bisa dikendalikan.

Orang yang terbiasa bersabar akan memiliki ketenangan batin

Dengan kesabaran, kita tidak akan merasa berat dalam menjalankan perintah Allah. Motivasi kita melakukan ibadah juga bukan karena dorongan nafsu atau kepentingan sesaat. Dengan kesabaran pula, kita akan mudah menjauhi segala hal yang dilarang Allah. Godaan atau rayuan hawa nafsu tak akan sanggup memalingkan kita pada kenikmatan semu.

Selain dapat membuka mata hati untuk bersikap tulus dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sabar juga akan menolong kita saat cobaan hidup menghadang langkah kaki kita. Dengan kesabaran, kita tidak akan takut bahkan dengan cobaan terburuk sekalipun. Dengan kesabaran pula, kita tidak akan kehilangan arah dalam menyikapi cobaan tersebut.

Dengan ketenangan batin itu, ia mudah berpikir jernih, bertutur santun, dan bersikap aril dalam menjalani hidup, sehingga berbagai impian dan cita-cita yang diinginkan dapat dengan mudah diraih. Hikmah sabar yang nyaris tak bertepi akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.


Publisher: masjid kita - 1:03:00 AM

Monday, January 6, 2014

, , ,

Kewajiban Seorang Suami


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu…. (QS. An-Nisa' : 36-37).

Suami adalah seorang lelaki sekaligus kepala keluarga. Berbicara tentang keluarga paling tidak sebuah keluarga terdiri dari seorang kepala keluarga yakni seorang suami dan seorang isteri. Bisa jadi sebuah keluarga ditambah dengan beberapa orang anak. Inilah yang masyhur dalam benak setiap orang ketika dia mendengar kata ‘keluarga’ disebutkan orang kepadanya. Dengan demikian, tertanamlah dalam benak setiap orang bahwa keluarga adalah suami, isteri, dan anak. Demikianlah lazimnya selama ini.

Benarkah keluarga hanya terdiri dari tiga anggota seperti yang disebutkan di atas? Dalam Islam, yang disebut keluarga lebih lebar dari itu. Ayah dan ibu sang suami termasuk di dalamnya, bahkan memperoleh porsi yang lebih utama dan lebih luas. Hal ini sering terabaikan bahkan terlupakan sama sekali akibat persepsi yang salah tentang arti keluarga selama ini. Sehingga seorang suami hanya merasa berkewajiban menghidupi isteri dan anak-anaknya saja.


Ketika keperluan pokok bagi isteri dan anak telah terpenuhi, sang suami mulai menumpuk harta sebagai investasi masa depan bagi isteri dan anak-anaknya. Sedangkan kedua orangtua kalaupun disantuni hanya terbatas pada saat-saat tertentu seperti saat lebaran tiba dua kali dalam setahun. Tragis, bukan..?

Sebenarnya bagi seorang suami kedua orang tua jauh lebih wajib dan mesti didahulukan daripada isteri dan anak kandung. Hal ini tergambar dalam hadis Nabi yang berbunyi: “Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua.” Artinya setinggi dan sebanyak apapun amal seorang lelaki terhadap Allah swt, akan menjadi rusak binasa jika orang itu menyia-nyiakan orangtuanya, yang menyebabkan dia tercatat sebagai anak durhaka.

Isteri dan anak memang wajib dinafkahi oleh seorang suami, namun ibu dan bapaknya lebih wajib dinafkahi. Sebuah hadis Nabi secara nyata menjelaskan hal ini. Hadis itu berbunyi, “Dari Aisyah ra berkata dia, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Beliau menjawab: “Suami wanita itu.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibu laki-laki itu.” (HR. Imam Hakim, dalam kitab Al Mustadrak jilid 4 halaman 150).

Jelas sekali, seorang laki-laki yang telah menjadi seorang suami lebih wajib menyelesaikan urusan keperluan sang ibu baru lelaki itu berkewajiban menyelesaikan urusan sang isteri. Tentu saja tidak berarti karena mengurus sang ibu, lelaki itu lantas menyia-nyiakan isterinya. Masing-masing memiliki hak yang wajib ditunaikan secara ma’ruf (baik).

Dalam hadis yang lain, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dariku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu... Ibumu… kemudian Ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang lebih dekat kepadamu (isteri dan anak), kemudian yang lebih dekat kepadamu (kaum kerabat).” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)

Demikian mulianya Islam meletakkan tanggung jawab kepada seorang suami. Hak-hak mereka secara rapi dan berurutan telah dijelaskan oleh Rasulullah saw di dalam hadis-hadisnya yang mulia. Jika diurutkan kewajiban seorang suami dalam Islam adalah sebagai berikut; 1. Mengurus ibu, 2. Mengurus bapak, 3. Mengurus Isteri dan anak, 4. Mengurus kerabat. Subhanallah…

Karena ketidaktahuan kaum muslimin atas ajaran Islam, kadang-kadang seorang isteri merasa kedua mertuanya (orangtua sang suami) adalah saingannya dalam memperebutkan pelayanan dan harta serta kasih sayang dari sang suami. Kemudian karena ketamakan yang tumbuh di hati sang isteri tersebut, dia akan meradang jika kedua mertuanya bertindak sedikit saja mengambil harta suaminya. Seolah-olah kedua mertuanya ‘merampas’ sesuatu yang semestinya menjadi bagian dan miliknya sendiri. Padahal jika sekedar makan dan pakaian tidaklah perlu menjadi perhitungan bagi sang isteri itu.

Betapa besarnya hak orangtua terhadap seorang anak lelakinya meskipun anaknya tersebut telah menjadi seorang kepala keluarga. Benar, menafkahi isteri dan anak merupakan kewajiban seorang suami dalam Islam, namun kewajiban itu tidak mesti menghilangkan kewajiban sang suami terhadap kedua orangtuanya. Bagaimanapun, keduanya dapat berjalan beriringan tanpa mesti satu dan lainnya dipertentangkan.

Kedua orangtua diurus secara baik dan akan menjadikannya sebagai sebuah amal yang mulia di dunia serta menjadi ‘tiket’ untuk masuk ke surga Allah di akhirat kelak. Sementara isteri dan anak juga merupakan lumbung pahala bagi seorang suami. Apalagi Rasul telah berjanji bahwa seorang suami yang bersedekah kepada anak dan isterinya, akan mendapatkan pahala dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan sedekahnya kepada fakir miskin.

Jika setiap suami menyadari bahwa menafkahi kedua orangtuanya merupakan ‘tiket’ untuk masuk surga, pastilah lelaki itu akan bersusah payah mendapatkan ‘tiket’ surga itu. Hatinya akan senang riang dan gembira untuk mengeluarkan sebagian dari harta miliknya, kepada kedua orangtuanya. Sebaliknya, sang isteri jika benar mencintai suaminya dengan tulus pastilah isteri tersebut akan sangat gembira pula melihat suaminya membeli tiket ke surga. Mustahil seorang isteri mengatakan cinta kepada suaminya tetapi dalam kehidupan sehari-hari sang isteri secara mati-matian mencoba menghalangi sang suami yang hendak membeli ‘tiket’ ke surga. Dalam hal ini, berupa pelayanan kepada ibu-bapaknya.

Dan jika suami-isteri telah menyadari bahwa menyantuni orangtua, merawat serta menafkahi mereka adalah kewajiban dari Allah dan sekaligus tiket masuk surga, manalah mungkin keduanya sampai hati ‘bermain kucing-kucingan’ berusaha menyembunyikan hartanya dari kedua orangtua mereka agar kedua orangtua mereka itu tidak punya kesempatan meminta harta mereka.

Menyembunyikan harta dari kedua orangtua, atau dalam istilah yang popular sekarang ini ‘berpura-pura miskin’ adalah sebuah tindakan bodoh dan dimurkai Allah. Bodoh karena membakar tiket ke surga; dimurkai Allah karena sebuah tindakan kufur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah melalui kedua orangtuanya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “…Menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…” (surah An Nisa’ ayat 37).
Publisher: masjid kita - 12:50:00 AM

Sunday, November 17, 2013

, ,

Kelola Hati

Bismillahirrohmaanirrohiim

Dalam kitab Ihya’ Ululmuddiin, Imam Ghozali memberikan penjelasan bahwa perkembangan rohani menuju hati yang sehat itu mirip dengan perkembangan badan. Badan akan berkembang dengan baik, normal dan sehat, bila memenuhi beberapa unsur pendukungnya, seperti makan makanan yang sehat, olah raga yang baik dan teratur, menjaga dari hal-hal yang dapat menyebabkan sakit atau celaka.

Mengurangi unsur-unsur pendukung itu akan menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Misalnya tidak makan, maka meskipun badan dapat tumbuh, namun tumbuhnya tidak akan bisa ideal. Atau makan tapi tidak bergerak, juga dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Atau diberi makan dan dipakai olah raga, tapi tidak menjaga dari yang menyebabkan sakit dan celaka, maka itu pun dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak optimal.

Demikian pula dengan rohani, ia perlu mendapat asupan makanan berupa ilmu. Ilmu yang masuk harus ilmu yang menyehatkan, sebab input ilmu itu akan mempengaruhi output mindset dan tindakannya. Apa nutrisi ilmu yang dimasukkan akan mempengaruhi apa yang akan dilakukannya.

Seperti orang yang memasukkan pengertian bahwa time is money, maka ia akan selalu berpikir untung rugi, hubungan yang dibangun dengan orang lain menjadi lebih transaksional daripada emosional. Dia akan menjalin hubungan dengan seseorang selama ia menguntungkan, bila sudah tidak lagi menguntungkan, maka hubungannya akan ia putus.

Orang yang memasukkan pengertian bahwa hidup bahagia itu seperti orang barat, maka ia akan mengkopi gaya hidup orang barat untuk ia terapkan dalam kehidupannya dan ia akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata budaya barat.

Orang yang memasukkan pengertian bahwa agama adalah way of life, maka ia akan bertindak sesuai dengan ajaran agama dan ia pun akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata agama. Oleh karena itu, hendaklah selektif dalam memasukkan ilmu, pilihlah ilmu yang menyehatkan rohani/ hati agar hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat (qolbun saliim).

Kalau badan butuh oleh raga, maka rohani/hati pun juga butuh olah hati, yaitu berupa pembiasaan yang baik dan teratur, seperti solat; solat yang baik itu tidak hanya sekedar menjalankan, tapi dijalankan dengan khusyuk atau penuh dengan kesadaran, memahami apa yang dibaca dan memahami simbol dari gerakan yang dilakukan. Gerakan-gerakan dalam solat itu adalah bentuk dari jenis-jenis penghormatan. Oleh sebab itu, perasaan menghormat ini hendaknya dihayati, sehingga menimbulkan perasaan khusyuk.

Solat juga harus teratur, artinya sedapat mungkin berjamaah untuk solat yang fardlu, sedang untuk solat sunah hendaknya juga teratur dilakukan, seperti solat malam, dhuha, rowatib dan tahiyyatul masjid.


Termasuk dalam kategori olah hati adalah zikir. Zikir ini tidak sekedar menghafal bacaan dengan menggerakkan mulut seperti ikan mujahir atau sapi, tapi ada penghayatan di dalam hati. Zikir juga bukan sekedar melafalkan bacaan-bacaan tertentu, tapi semua aktifitas yang mengingatkan diri kepada Allah, bentuk aktifitasnya bisa berupa berpikir, mengamati sesuatu, bekerja, berdiskusi, membaca Al Qur’an dan sebagainya.

Rohani/hati juga butuh treatment, menjaga dari hal-hal yang menyebabkan sakit atau celaka. Seperti menjaga hati dari iri, dusta, dendam, bakhil, mengeluh/tidak bersyukur, ghibah/gosip, membuka aib orang, sombong, ujub dan lain-lain. Penyakit-penyakit hati ini harus diobati supaya membuat hati menjadi sehat.

Caranya adalah dengan membiasakan lawan dari penyakit itu. Misalnya sakit sombong, harus diobati dengan membiasakan sikap rendah hati. Iri harus diobati dengan membiasakan sikap qonaah. Dendam diobati dengan membiasakan memaafkan. Dusta diobati dengan membiasakan kejujuran. Bakhil diobati dengan membiasakan sedekah. Mengeluh diobati dengan membiasakan banyak bersyukur, dan seterusnya.

Mengobati penyakit-penyakit hati ini butuh waktu, prosesnya tergantung kadar dari penyakitnya. Kalau ringan ya akan cepat sembuh, kalau sudah kronis ya butuh waktu yang lebih lama dan terapi yang khusus serta ketekunan dan kesabaran pasien. Bahkan kadang perlu berobat ke dokter hati yang ahli kalau memang dibutuhkan.

Puasa, makan tidak sampai kenyang benar, mengurangi bicara, mengurangi hal yang sia-sia, menjaga makan dari yang syubhat dan kumpul dengan orang solih juga dapat menjadi cara untuk mentreatment hati dari penyakit-penyakit hati. Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan oleh Allah sehingga kita dapat mengelola hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat. Amien ya robbal ‘alamien.

Salam Sukses Bahagia

Sumber ; The Real Hamba Allah
Publisher: masjid kita - 9:38:00 PM