Showing posts with label Abunawas. Show all posts
Showing posts with label Abunawas. Show all posts

Wednesday, January 15, 2014

, , , , , , ,

Sufi Abu Nawas


Sebagai penyair, tingkah laku Abu Nawas cukup aneh dan slebor. Tingkah lakunya membuat orang selalu mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya. Ditambah sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Namun, di mata Ismail bin Nubakht, Abu Nawas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan.

Berbekal kepiawaiannya menulis puisi, Abu Nawas bisa berkenalan dengan para pangeran. Sejak dekat para bangsawan, puisi-puisinya berubah memuja penguasa. Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.

Puncaknya, syair Abu Nawas menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya didapuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.
Namun kedekatannya dengan khalifah berujung di jeruji besi. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Ia lantas di penjara.
Sejak mendekam di penjara, puisi-puisinya berubah menjadi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.

Setelah bebas, dia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia hengkang dari Baghdad setelah kejayaan Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu, ia hijrah ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nawas akhirnya kembali lagi ke Baghdad, setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan Al-Amin.

Sajak-sajak pertobatan Abu Nawas bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang dirilisnya menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan. Setelah menemukan Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad.

Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuat Abu Nawas menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering melawak, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.

Publisher: masjid kita - 1:11:00 AM
, , , , , ,

Abunawas, sang Legenda I

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla, wala aqwa 'ala naril jahimi. Fahab li tawbatan waghfir dzunubi fainaka ghafirud dzanbil adzimi.

Senandung syair di atas tak asing lagi bagi sebagai umat Islam di Indonesia. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, biasanya para jamaah melantunkannya dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski telah 11 abad, syair itu tetap abadi di hati jamaah.





Legenda syair pengingat dosa dan kematian, tak lepas dari sang pengarang yang alim, yakni Abu Nawas. Sosok sufi yang tetap dikenang sepanjang masa. Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam.


Abu Nawas banyak dikenal lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nawas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik personal maupun pemerintahan yang dibungkus dengan humor.

kelahiran Abu Nawas tak diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahirannya. Diperkirakan, ia lahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut di Damaskus, Bursa. Bahkan versi lain menyebut dia lahir di Ahwaz.
Ayahnya, bernama Hani, anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun dari Persia.
Abu Nawas kecil, pernah dijual oleh sang ibu kepada penjaga toko dari Yaman, Sa'ad Al-Yashira. Abu Nawas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra, Irak. Sejak remaja, otaknya yang encer menarik perhatian Walibah ibnu A-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Sejak itu, Al-Hubab mengajarinya teologi dan tata bahasa. Ia juga diajari menulis puisi. Sejak itulah, ia tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf Al-Ahmar di Kufah.

Ketika muda, puisi-puisi yang dikarangnya kerap diinspirasi khammar (minuman keras), salah satunya khumrayat (penggambaran minuman keras). Adalah Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nawas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras.

Bersambung...
Publisher: masjid kita - 1:08:00 AM